_compressed%20(1)_page-0001%202.jpg)
Di tengah padatnya kawasan perkotaan kota Yogyakarta pemanfaaatan lahan perkaraangan seringkali dianggap terbatas. Namun, di wilayah kota Yogyakarta khusunya kawasan permukiman padat kelompok wanita tani (KWT) mampu mengubah keterbatasan lahan tersebut di kota menjadi peluang. Menurut penelitian, pertanian perkotaan terbukti mampu meningkatkan ketersediaan pangan sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan perkotaan (Suryani et al., 2021). Dengan demikian, praktik yang dilakukan KWT tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada aspek ekologis. KWT ditengah kota tidak hanya sebagai sarana penghijauan semata akan tetapi menjadi upayaa dalam mendukung ketahanan pangan keluarga dan meningkatkan pendapatan rumah tangga. Hal ini sejalan dengan pendapat bahwa pemanfaatan pekarangan dapat menjadi strategi efektif dalam memperkuat ketahanan pangan rumah tangga (Kementerian Pertanian, 2020). Perkembangan tersebut tidak terlepas dari peran seorang penyuluh pertanian yang aktif mendampingi kelompok dan membimbing dalam mengoptimalkan potensi yang ada disekitar KWT.
Pemanfaatan Pekarangan di Tengah Kota
Di tengah kota memiliki perbedaan dengan wilayan pedesaan karena KWT di Kota Yogyakarta menghadapi akan tantangan keterbatasan lahan. Namun, hal tersebut tidak menjadi penghalang dalam melakukan kegiatan pertanian. Melalui inovasi seperti vertikultur, hidroponik, dan polybag para anggota KWT tetap mampu membudidayaakan berbagai jenis tanaman yang ada. Tanaman yang umun dikembangkan antara lain cabai, sawi, kangkung, tomat, serta tanaman herbal seperti jahe, kunyit, dan serai. Selain untuk konsumsi sehari-hari hasil panen yang didapat juga mulai dijual dilingkungan sekitar atau menjual yang sudah diolah seperti pisang dijual menjadi keripik pisang, bakpia pisang atau makanan sejenisnya.
Peran Penyuluh dalam Mendampingin KWT Perkotaan
Di area perkotaan peran penyuluh menjadi sangat penting. Penyuluh tidak hanya memberikan materi teknik saja akan tetapi juga menyesuaikan metode penyuluhan dengan kondisi masyarakat kota yang memiliki keterbatasan dalam waktu dan lahan. Penyuluh memberikan pelatihan budidaya tanaman yang baik dengan metode yang efektif, efesien dan mudah diikuti oleh para anggota kwt seperti sistem tanaman vertikal, hidroponik, atau penggunaan media tanam alternatif lainnya. Tidak hanya itu penyuluh mendorong anggota KWT untuk mengembangkan produk olahan tidak hanya menjual produk yang belum diolah karena seperti menjual minuman herbal dan sayuran kemasan yang bagus akan membuat harga dari produk tersebut naik dan ini dapat membantu perekonomian setempat. Penyuluh juga melakukan pendampingan dalam hal pemasaran termasuk pemanfaatan media sosial dan jaringan komunitas lokal untuk memperluas pasar.
KWT Gemah ripah Dari Pekarangan Menjadi Wisata Edukasi
Salah satu contoh kWT yang berkembang pesat di Kota Yogyakarta yakni KWT Gemah Ripah. Kelompok ini dikenal sebagai salah satu KWT terbaik karena dapat mengelola pekarangan secara produktif dan juga kreatif. KWT Gemah Ripah tidak hanya fokus dalam budidaya tanaman tetapi juga berhasil mengembangkan kawasan pertanian menjadi wisata edukasi yang menarik minat turis. Lingkungan hijau dan tertata membuat kelompok ini sering dikunjungi oleh masyarakat, pelajar, hingga wisatawan lokal maupun asing yang ingin belajar tentang pertanian perkotaan.
Salah satu keunggulan KWT ini merupakan inovasi dalam mengolah hasil pertanian khusuna bayam brazil. Tanaman ini diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti mie bayam brazil dan olahan pangan sehat lainnya. Produk tersebut tidak hanya diminati oleh warga lokal tetapi juga menjadi daya tarik bagi pengunjung. Keberhasilan KWT Gemah Ripah tidak lepas dari peran penyuluh yang secara konsisten memberikan pendampingan mulai dari teknik budidaya, pengolahan produk, hingga pengembangan wisata kelompok. Dengan adanya dukungan tersebut KWT mampu berkembang menjadi kelompok yang mandiri dan inovatif.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Keberadaaan KWT di kawasan perkotaan memberikan dampak yang cukup signifikan dalam ekonomi maupun sosial. Secara ekonomi anggota KWT dapat mengurangi pengeluaran rumah tangga dan memperoleh tambahan pendapatan dari hasil penjualan produk. Contoh nyata terlihat pada KWT Gemah Ripah yang tidak hanya mendapatkan pendapatan dari hasil pertanian akan tetapi dari kegiatan wisata dan penjualan produk olahan. Hal ini dapat diketahui bahwa KWT memiliki banyak potensi besar sebagai penggerak ekonomi kawasan lokal.
Kisah KWT de tengah Kota yogyakarta menujukkan bahwa keterbatasan akan lahan bukan hambatan dalam berkembang. Dengan adanya pemanfaatan perkarangan secara optimal, inovasi produk, serta dukungan penyuluh, KWT mampu bertransformasi menjadi sumber pangan sekaligus juga sebagai sumber penghasilan. Keberhasilan seperti yang ditunjukkan tersebut oleh KWT Gemah Ripah menjadi bukti mengenai pertanian perkotaan yang dapat berkembang secara kreatif dan berkelanjutan dan bisa menjadi daya tarik wisata. Kedepannya sinergi antara masyarakat dan penyuluh diharapkan dapat terus memperkuat peran KWT dalam pembangunan pertanian yang inklusif.
