Transformasi Perbenihan di Era Teknologi dan Perubahan Iklim untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional

Perkembangan zaman sekarang yang semakin pesat sangat membawa perubahan besar dalam berbagai sektor, salah satunya sektor pertanian. Di satu sisi, perkembangan teknologi yang semakin canggih dan membuka peluang-peluang baru yang pada sebelumnya belum pernah ada. Namun disisi lain, perubahan iklm sendiri menunjukkan dampak yang semakin nyata terhadap stabilitas produksi pangan. Kondisi cuaca yang semakin tidak menentu bahkan tidak bisa ditebak, perlunya upaya yang harus ditangani dengan serius.
Sistem perbenihan memegang peran yang sangat strategis karena benih merupakan titik awal dari seluruh proses budidaya tanaman. Benih bukan hanya sekedar tanam biasa, melainkan fondasi utama yang menentukan keberhasilan seluruh proses budidaya tenaman. Kualitas benih yang unggul, tahan terhadap berbagai hama dan penyakit, serta mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan atau cuaca yang terus berubah menjadi faktor penentu dalam menjaga produktivitas pertanian. Simplenya seperti ini, ketika benih yang kita gunakan tidak memiliki mutu yang memadai, maka seberapapun baik teknik budidaya yang diterapkan, harapan hasil yang optimal itu akan sulit diwujudkan. Tanpa benih yang bermutu dan adaptif, upaya peningkatan produksi pangan akan sulit tercapai.
Ketahanan pangan sendiri telah menjadi prioritas pembangunan nasional sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Dalam regulasi tersebut ditegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercemin dari ketersediannya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produksi secara berkelanjutan. Ketahanan pangan tidak hanya berbicara mengenai aspek produksi, tetapi juga mencakup distribusi, aksesibilitas, dan stabilitas pasokan pangan di seluruh wilayah. Oleh karena itu, pembangunan sektor pertanian khususnya dalam penguatan sistem perbenihan memegang peranan yang sangat strategis dalam menjamin ketersediaan benih berkualiats sebagai landasan utama peningkatan produktivitas pertanian. Di tengah-tengah berbagai tekanan seperti perubahan iklim yang semakin ekstrem, laju pertumbuhan penduduk yang sampai sekarang terus meningkat, serta dinamika perekonomian global yang tidak menentu, upaya penguatan ketahanan pangan menjadi agenda yang sekarang relevan dan tidak bisa ditunda-tunda. Pencapaian tujuan tersebut tentu tidak bisa berdiri sendiri perlunya kolaborasi yang maksimal dan terpadu antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, para pelaku usaha, dan seluruh lapisan masyarakat.
Perubahan iklim menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi sektor pertanian saat ini, karena dampaknya yang secara langsung mempengaruhi stabilitas produksi pangan. Seperti contoh curah hujan yang datang tidak menentu, suhu udara yang naik turun tidak menentu, serta meningkatnya frekuensi bencana seperti kekeringan dan banjir menjadi ancaman nyata dan serius bagi keberlangsungan sistem produksi pertanian di berbagai wilayah. IPCC (2022) menyatakan dengan tingkat keyakinan tinggi bahwa perubahan iklim telah mengurangi produktivitas pertanian diberbagai wilayah dunia akibat peningkatan suhu, perubahan pola curah hujan, serta meningkatnya frekuensi dan intensitas kejadian ekstrem seperti kekeringan dan banjir. Dampak tersebut tidak hanya menekan hasil produksi, tetapi juga melemahkan ketahanan pangan dan ketahanan air, bahkan menghambat pencapain tujuan pembangunan berkelanjutan. Meskipun secara global produktivitas pertanian masih menunjukkan peningkatan, perubahan iklim telah memperlambat laju pertumbuhan tersebut dalam lika dekade terakhir, dengan dampak negatif paling nyata terjadi di wilayah lintang menengah dan rendah, sementara sebagian wilayah lintang tinggi mengalami dampak positif terbatas. Temuan ini memperlihatkan bahwa adaptasi di sektor pertanian, termasuk penggunaan varietas dan benih yang lebih tahan terhadap cekaman iklim, menjadi bagian penting dalam strategi menghadapi perubahan iklim.
Selanjutnya selain faktor iklim, perkembangan teknologi juga membuka peluang baru yang sangat besar dalam penguatan sistem perbenihan nasional. Transformasi digital mulai diterapkan secara bertahap dalam berbagai aspek pengelolaan perbenihan, mulai dari pendataan produsen benih, lalu proses sertifikasi, hingga sistem distribusi yang kini dapat dilakukan secara efisien dan transparan. Fuglie et al., (2019) menegaskan bahwa adopsi inovasi dan teknologi modern merupakan faktor kunci untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan pendapatan petani, terutama di negara-negara berkembang. Dalam konteks perbenihan, digitalisasi memungkinkan kemudahan dalam proses sertifikasi dilakukan secara lebih cepat dan akurat, serta memudahkan pelacakan asal-usul benih ini darimana, melalui sistem berbasis data.
Penguatan mutu benih juga menjadi aspek yang tidak dapat diabaikan, apalagi untuk pembangunan pertanian berkelanjutan. Benih yang bersertifikat menjamin kemurnian varietas, daya kecambah, kadar air, dan kesehatan benih sesuai standar yang ditetapkan, petani tidak hanya mendapatkan kepastian hasil panen yang lebih baik, tetapi juga meminimalkan risiko kegagalan budidaya akibat penggunaan benih berkualiatas rendah. Maka dari itu, mendorong aksesibilitas dan penggunaan benih bersertifikat dikalangan petani menjadi salah satu langkah strategis yang perlu terus diperkuat melalui dukungan kebijakan, penyuluhan, dan penguatan sistem perbenihan nasional secara menyeluruh. Di tingkat nasional, pengawasan mutu benih dilakukan melalui mekanisme yaitu ada pemerikasaan lapangan, pengujian laboratorium, serta penerbitan label sertifikasi. Sistem tersebut bertujuan memastikan bahwa benih yang diproduksi dan diedarkan telah memenuhi standar mutu genetis,fisik, dan fisiologis. Keberadaan lembaga pengawasan mutu benih di daerah menjadi ujung tombak dalam menjaga kredibilitas sistem perbenihan. Pada zaman sekarang di era digital, proses ini semakin diperkuat dengan penggunaan sistem informasi yang memungkinkan pelaporan dan dokumentasi dilakukan secara lebih transparan dan terintegrasi secara jelas.
Seiring berjalannya waktu, dimana dunia semakin canggih banyak tantangan-tantangan global yang kita hadapi, sistem perbenihan tidak lagi bisa berjalan hanya secara konvensional terus menerus. Integrasi anatara penelitian, teknologi, dan kebijakan menjadi kunci keberhasilan benih unggul bersertifikat. Inovasi pemuliaan tenaman yang menghasilkan varietas adaptif juga perlu diimbangi dengan sistem distribusi yang efisien serta regulasi yang sangat mendukung. Pemanfaatan teknologi canggih sangat berarti pada zaman sekarang, seperti aplikasi perbenihan, web, big data, dan kecerdasan buatan membuka peluang baru dalam memperkirakan kebutuhan benih berdasarkan kondisi agroklimat dan luas lahan tanam, sehingga produksi benih dapat direncanakan dengan lebih matang,maksimal dan tepat sasaran.
Pada akhirnya, transformasi perbenihan bukan sekedar pilihan, melainkan suatu keharusan yang perlu dilakukan dengan bukti nyata. Ketahanan pangan nasional bukan sekedar kalimat yang diucapkan secara mudah, akan tetapi sebuah kalimat yang harus diperhatikan oleh seluruh rakyat Indonesia. Ketahanan pangan nasional juga ditentukan oleh sejauh mana sistem perbenihan mampu menyuplai benih yang unggul, berkualitas, mampu beradaptasi terhadap dinamika perubahan lingkungan yang tidak menenentu. Dengan adanya kebijakan pemerintah yang mendukung, perkembangan teknologi yang sangat pesat, serta keterlibatan aktif seluruh pihak yang berkepentingan, diharapkan sistem perbenihan Indonesia dapat terus berkembang menjadi tangguh, modern, dan berkelanjutan dalam menjawab berbagai tantangan di masa mendatang "Wijisemi petani berseri".
Sumber:
-
https:www.researchgate.net/publication/36243168_Climate_Change_2022_Impacts_Adaption_and_Vulnerability_Working_Group_II_Contribution_to_the_Sixth_Assessment_Report_of_the_Intergovern mental_Panel_on_Climate_Change.
-
https://www.researchgate.net/pub;ication/337095197_Harvesting_Prosperity_Technology_and_Productivity_Growth_in_Agriculture.
-
https://badanpangan.go.id/blog/post/undang-undang-republik-indonesia-nomor-18-tahun-2012-tentang-pangan.
