Pakan alami tidak dipungkiri adalah pakan terbaik untuk larva lele, tetapi ketersediaanya baik secara kuantitas maupun kualitas tak bisa dipastikan. Hal tersebut diungkap Fauzul Mubinselaku Hatchery Manager PT Matahari Sakti.“Belum lagi pakan alami seperti cacing sutra kebanyakan tidak dibudidayakan, tetapi hasil tangkapan yang berasal dari daerah-daerah sungai buangan limbah, baik rumah tangga maupun industri sehingga rawan diikuti oleh penyakit, logam berat, dan lain-lain,” papar pria yang akrab disapa Mubin ini. Tambah Mubin, selain itu harganya juga relatif tinggi. Lagi pula daerah yang ada pakan alami seperti cacing sutra hanya di daerah tertentu. Pakan komplementer meskipun tidak bisa sepenuhnya menggantikan pakan alami akan sangat membantu meringankan pembenih. Itulah yang melatarbelakangi terciptanya pakan tersebut,”jelasnyakepada Trobos Akua. Pelet Pengganti Sulitnya memperoleh pakan alami untuk benih lele, mendorong mendorong perusahan pakan ikan memproduksipakan pelet dengan ukuran kecil. Salah satunya PT Mata Hari Sakti. Dan hasilnya,menurut Mubin,hingga kini animo pembudidaya terhadap produk tersebut cukup baik. Pakan pelet dapat digunakan sebagai komplementer (pengganti) cacing sutra. Paling tidak, kata Mubin, bisa meringankan biayapembenihan (biaya pakan benih paling besar adalah pakan alami). Harga cacing sutra di daerah Jawa sekitar Rp 7 ribu sampai 20 ribu per liter, seementara harga pelet benih sekitar Rp 16 ribu per kg. “Daerah yang sulit didapatkan cacing sutra maka pakan pelet komplementer menjadi sangat krusial,” ungkap Mubin. Lanjutnya, kelebihan lain dari pakan pelet yaitubisa disimpan, selalu tersedia, sertamutunya bisa terjamin dan bisa dikendalikan. “SR (Survival Rate) atau tingkat daya tahan hidup rata-rata dengan menggunakan pelet di pembenihanlele jenismasamo sekitar 60 %, FCR(Feed Convertion Ratio)tidak pernah dihitung secara pasti karena stadia larva,namun berada dikisaran sekitar 0,5,” papar Mubin. PT Central Proteina Prima (CPPrima)juga memproduksi pelet untuk benih lele. Dijelaskan Yakub Mulyana selaku Nutrition Technical Technology Aqua Feed TechnologyCPPrima,pakan buatan untuk komplementer cacing sutra dimulai dengan bentuk tepung. Dengan bentuk seperti itu, maka mulai bisa dipakai ketika ikan mulai makan. “Sekiranya bukaan mulutnya sudah besar mulai bisa diganti, biasanyauntuk lelemulai umur1 – 2 minggu baru diberi pelet tepung, kemudian beralih ke ukuran yang lebih besarseiring pertumbuhan,” ungkapnya. Pakan buatan diakui Yakub bisa sebagai pengganti. Senada Mubin, pakan buatan memiliki nutrisi lengkap dan diproduksi secara besar sehingga kontinuitasnya lebih terjamin. ”Cacing sutra tidak selalu ada dan tidak terjamin juga. Pakai ini tidak masalah gak mesti ada cacingnya,” ujarnya. Cara Pemberian Pelet Menurut Mubin, penggunaan pakan pelet tidak sulit, karena feeding habit (kebiasaan pemberian pakan) pada stadia larva masih di dasar maka pakan harus dibuat pasta (adonan). Pelet bisa diberikan mulai umur6hari pada saat siang hari dan dikontrol pemakaiannya. Berikan sedikit demi sedikit dan disebarkan pada titik-titik yang merata agar semua larva bisa makan. “Sebelum umur 6 hari sebaiknya larva tetap diberi cacing sutra,” kata Mubin. Bila tidak habis dalam 1 jam maka harus diambil (disiphon). “Pemakaiannya bisa dikombinasikan dengan pemberian cacing pada jatah pakan sore/malam. Penggunaan pelet penuh bisa dilakukan dengan frekuensi 5 – 4 kali per hari dengan porsi ad-libitum (sampai kenyang),” papar Mubin.